Homiletika.info

Belajar Berkhotbah Secara Ekspositori

  • Beranda
  • KMK I
  • KMK II
  • KMK III
  • Bagaimana Berkhotbah
  • PESKE I
  • PESKE II
  • Hubungi Kami
  • Mebin+Online
Homiletika.info > Bagaimana Berkhotbah > Langkah-langkah Dalam Persiapan Khotbah Ekpositori

Langkah-langkah Dalam Persiapan Khotbah Ekpositori

LANGKAH I : MENCARI INFORMASI MENGENAI LATAR BELAKANG NAS.

Cicero, seorang ahli pidato Roma yang hidup kurang lebih pada tahun 70 mengatakan bahwa tak serorangpun dapat berbicara dengan lancar dan berkuasa mengenai sebuah pokok yang belum dimengerti dan dikuasainya dengan baik. Seorang ahli khotbah lain mengemukakan bahwa seorang pengkhotbah tidak boleh bersungut-sungut karena banyak waktu yang dipakai untuk mengumpulkan informasi mengenai nas khotbahnya. Dan sudah menjadi hukum dasar bahwa sesuatu yang tidak menuntuk banyak keringat dari produsen kurang begitu berharga buat pembeli.

Demikianlah saudara harus berusaha sungguh-sungguh dan belajar sampai “berkeringat” mencari informasi dari latar belakang nas saudara. Usaha ini akan menolong saudara menguasai pokok yang akan saudara uraikan. Dan sebagian dari bahan-bahan penyelidikan ini akan dapat dimasukkan ke dalam khotbah saudara.

Saudara perlu ingat juga bahwa Alkitab yang kita pelajari adalah buku asing mengenai satu suku kecil di Asia. Alkitab ini adalah buku kuno, yaitu sebuah buku yang dikarang antara 1870 sampai 2500 tahun yang lalu. Sudah terang zaman itu lain sekali dari zaman kita sekarang. Sejarah suku itupun lain sekali dari sejarah Indonesia. Malahan sejarah dunia pada waktu itu lain sekali dari sejarah masa kini. Dan bagaimana ilmu buminya dunia Alkitab? Kita mengerti ilmu bumi Indonesia tetapi apakah kita mengerti ilmu bumi Alkitab? Dan kebudayaan orang Israel pada waktu itu lain sekali dari kebudayaan Indonesia. Kita tahu betapa jauh perbedaannya kebudayaan antara suku-suku di Irian Jaya dari kebudayaan suku Madura di Pulau Madura. Apalagi betapa besarnya perbedaan kebudayaan dunia Alkitab dari kebudayaan kita di Indonesia. Nah, oleh karena soal-soal ini kita harus belajar nas kita dan latar belakangnya dengan teliti supaya kita dapat menguraikan khotbah kita dengan pengertian dan kuasa!

Kami sudah menyiapkan bermacam-macam pertanyaan dalam langkah pertama ini. Kami ingin supaya setiap pertanyaan ini ditulis pada Buku Penyelidikan Khotbah saudara dengan warna merah, dan dengan diberi nomer yang sama dengan keterangan kami di buku ini. Jadi, tuliskanlah pada Buku Penyelidikan Khotbah saudara:

 

1. Pembicara atau Penulis :

           1) Siapa yang mengatakan atau menulis nas itu ?

4 (1) 01

Walaupun Alkitab diwahyukan Allah dan semua isinya ditulis sesuai dengan kejadiannya, jangan berpikir bahwa Allah yang mengucapkan setiap kalimat dalam Alkitab. Kadang-kadang seorang nabi menjadi pembicara (Yesaya 6:5). Di ayat lain Allah langsung berbicara (Yesaya 6:8). Sewaktu-waktu Setan menjadi si pembicara (Ayub 2:4). Dan orang-orang lain seperti seorang putri, atau rasul, nelayan, pedagang, murid Yesus, dan Yesus sendiri menjadi pembicaranya.

Sering sebuah nas mempunyai baik seorang penulis maupun seorang pembicara. Misalnya, jikalau saudara mengambil nas dari Kisah Para Rasul 2:14-40, dengan gampang saudara dapat mencatat bahwa rasul Petrus adalah pembicara. Namun saudara juga harus menandai bahwa Lukas adalah penulis nas itu (Kisah Para Rasul 1:1). Dalam riset dan penyelidikan untuk khotbah pada nas tersebut saudara akan berkonsentrasi pada rasul Petrus sebagai pembicara, tetapi juga tidak akan melupakan si penulis, Lukas!

Sewaktu-waktu ada sebuah nas yang merupakan pembicaraan antara dua atau tiga orang. Di sana saudara harus menentukan siapa yang mempunyai peranan terpenting dan berkonsentrasi pada orang itu, sambil juga mengadakan riset tentang orang-orang lain dalam nas tersebut.

            2) Bagaimana riwayat hidupnya ? Umurnya ? Kelakuannya ?

 

Kita dapat lebih mengerti karya seseorang kalau kita mengerti sedikit mengenai si penulis itu sendiri. Saudara harus berusaha mencari informasi mengenai penulis nas yang akan saudara khotbahkan. Misalnya, jikalau nas saudara adalah Yesaya 2:1-5, maka saudara perlu menggali informasi mengenai nabi Yesaya. Dari membaca dalam kitab Yesaya serta pemakaian Kamus Alkitab dan Ensiklopedia Alkitab saudara akan melihat bahwa Yesaya berarti “Yehovah adalah keselamatan,” bahwa ia tinggal di Yerusalem dan keturunan bangsawan. Juga nabi Yesaya berkhotbah pada masa raja Uzia, Yotam, Ahaz, dan Hizkia memerintah atas Yehuda antara 791 s/d 686 sebelum masehi. Yesaya berumur kira-kira 30 tahun ketika ia memberi nubuat dalam Yesaya 2:1-15. Ia seorang nabi yang berani dan berkelakuan baik, berpendidikan tinggi dan dibesarkan di antara para cendekiawan. Ini hanya sebagian kecil dari informasi yang bisa saudara dapatkan mengenai penulis nas, yaitu nabi Yesaya. Ingat, semakin baik saudara mengenal penulis nas, semakin gampang untuk mengerti nas itu sendiri.

           3) Bagaimana kerohaniannya ?

Hal kerohanian pembicara atau penulis mempengaruhi penafsiran kita pada nas itu. Bagaimana kerohanian Kain yang mengatakan: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” Bagaimana keadaan rohani Petrus ketika ia menyangkal Yesus? Bagaimana Kerohanian nabi Yunus? Sering keadaan pembicara atau penulis mewarnai penafsiran kita pada ucapannya/tulisannya.

 

2. Pendengar atau Pembaca :

4 (2) 02

Tiap ucapan dan karangan dalam Alkitab walaupun bertujuan membangunkan iman kita, pada permulaannya mempunyai pendengar/pembaca tertentu.

            1. Siapakah pendengar atau pembacanya ? Bagaimana kedudukannya ?

Ingat ucapan nabi Elisa kepada Naaman (II Raja-Raja 5:10): “Pergilah, mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir.” Perintah itu kelihatannya sangat sederhana sebelum kita menyelidiki siapa Naaman ini. Ia adalah panglima besar Angkatan Bersenjata Aram, negara musuh yang terletak di sebelah utara Israel. Ia tidak pernah diperintah oleh rakyat biasa, apalagi oleh rakyat Israel yang dibencinya.

            2. Bagaimana keadaan rohani si pendengar/pembaca ?

 

Bila kita mengerti bahwa orang-orang Korintus sudah mengalami kemunduran rohani serta jatuh ke dalam dosa-dosa kesusilaan, maka kita dapat mengerti mengapa dalam surat-surat Paulus yang ditujukan kepada mereka, ia bersikap tegas. Jika kita tahu bahwa Nikodemus adalah pemimpin agama orang Yahudi yang semestinya serba mengerti mengenai masalah keselamatan jiwa, pembicaraan Yesus dengan Nikodemus menjadi lebih berarti. Dan bagaimana dengan perempuan Samaria di dalam Yohanes 4? Ia seorang perempuan sundal dari bidat Yahudi, yaitu ia menganggap Bait Allah ada di Samaria. Pengertian ini menunjukkan bahwa Yesus melayani seorang yang bukan jahat saja, tetapi juga yang sesat dalam agama palsu.

            3. Apakah sesuatu mengenai dia yang patut diperhatikan ?

Bukan hanya kedudukan panglima Naaman yang penting, tetapi juga fakta bahwa ia datang dari negeri Aram. Ia seorang nasionalis. Ia mencintai tanah airnya sendiri. Ia menganggap tanah airnya sendiri jauh lebih baik dari tempat-tempat lain. Namun nabi Elisa menyuruh dia mandi di dalam sungai Yordan.

Juga, mungkin perlu mengadakan penyelidikan pada kehidupan sosial, politik, kebudayaan, dan ekonomi si pendengar/pembaca tadi. Apakah ia dari kaum ningrat atau rakyat jelata? Apakah ia berperanan penting dalam politik negaranya atau seorang awam yang tidak berpengaruh? Bagaimana kebudayaannya? Apakah ia berbangsa Yahudi atau berbangsa Yunani? Bagaimana keadaan keuangan? Kaya atau miskin?

           4. Apakah hubungan antara pendengar/pembaca dengan pembicara/penulis ?

Bila kita memikirkan pembicaraan antara Nikodemus dan Yesus pada waktu malam di Yerusalem, kita anggap pembicaraan ini sebagai wawancara antara Tuhan semesta alam dan seorang berdosa. Tetapi kita harus melihat hubungan antara Yesus dan Nikodemus dalam terang zaman Alkitab. Pada waktu Yesus masuk Yerusalem kebanyakan orang masih menganggap Dia, malahan oleh orang yang dekat, sebagai seorang tukang kayu dari Nazaret yang “kebetulan” pandai mengajar. Sebaliknya Nikodemus adalah penghulu orang Yahudi, seorang yang betul-betul ahli dalam hal agama, malahan ia dianggap salah seorang yang terpandai di antara semua guru orang yahudi. Dengan melihat fakta-fakta ini, dari satu segi, kita dapat menafsirkan pertemuan Yesus – Nikodemus sebagai pertemuan antara tukang kayu Galilea yang miskin (Yesus) dengan guru besar dan ahli agama Yahudi (Nikodemus). Dengan demikian maka wawancara dalam Yohanes 3:1-8 menjadi lebih berarti bagi kita.

3. Tempatnya:

           1) Di manakah nas ini ditulis atau dikatakan ?

4 (3) 03

Sering Alkitab tidak memberi jawaban terperinci untuk pertanyaan ini, dan kita hanya dapat tahu kira-kira di mana sebuah nas ditulis/dikatakan. Tetapi kalau kita menyelidiki lebih mendalam sering kita bisa mengetahui tempatnya dengan tepat.

Bacalah nas itu sendiri. Apakah nama tempat di mana pembicara itu diadakan? Bacalah konteks (ayat-ayat sebelum dan sesudah nas) dan lihat apakah ada petunjuk di sana?

Bagaimana saudara dapat mengetahui tempat kejadiannya kalau nas saudara misalnya: Yohanes 15:1-8? Memang sukar! Tetapi lihat konteksnya!

Dalam Yohanes 14:31 Yesus berkata kepada murid-muridnya: “ . . . bangunlah, marilah kita pergi dari sini.” Dalam pasal-pasal sebelumnya kita dapat menarik kesimpulan bahwa Ia ada di bagian atas rumah di mana Ia mengadakan Perjamuan terakhir dengan murid-muridNya. Di dalam pasal berikutnya kita bertemu dengan Yesus di Taman Getsemani. Dalam Yohanes 15:1 kita melihat Yesus berbicara mengenai Pokok Anggur. Demikianlah kita dapat memikirkan bahwa mungkin Yesus sedang dalam perjalanan dari bilik atas rumah itu ke Taman Getsemani ketika Ia melihat sebuah kebun anggur yang indah di luar tembok kota Yerusalem dan langsung Ia memberi keterangan mengenai diriNya sebagai Pokok Anggur yang benar.

Tetapi menentukan tempat di mana nas lain ditulis/dikatakan jauh lebih gampang. Misalnya: Kisah Para Rasul 27:35-36. “Sesudah berkata demikian, ia mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan. Maka kuatlah hati semua orang itu, dan merekapun makan juga.” Bila kita membaca seluruh pasal ini sangat terang bahwa Lukas, yang menulis nas ini sedang bersama-sama Paulus di atas sebuah kapal yang sebentar lagi akan karam di Laut Tengah dekat pulau Malta.

Dan bagaimana dengan nas berikut ini: “Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu” (Daniel 3:18). Segeralah membaca daniel pasal 3, dan saudara akan mengetahui bahwa ayat ini diucapkan di negara Babel tidak jauh dari dapur panas yang disediakan untuk membakar hidup-hidup orang-orang yang tidak tunduk pada perintah raja!

           2) Apakah ada arti istimewa berhubungan dengan tempat ?

Mungkin tempat nas Saudara ditulis/dikatakan tidak akan membantu saudara dalam pengertian nas. Tetapi soalnya kadang-kadang tempat akan menolong banyak. Lihatlah ayat yang penuh arti ini, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga” (Efesus 1:3). Ayat itu sangat indah tetapi betapa lebih indah apabila kita sadar bahwa ayat itu ditulis oleh rasul Paulus ketika ia dikurung dalam penjara di Roma. Memang gampang berbicara mengenai berkat sorgawi bila keadaan di sekitar kita enak. Tetapi di sini Paulus masih dapat berbicara mengenai berkat rohani meskipun keadaannya sangat tidak enak!

Kita dapat melihat perhatian Yesus pada ibuNya dalam Yohanes 19:25-26. PerhatianNya memang tidak dianggap luar biasa. Semua anak harus bertanggung jawab mengurus orang tuanya bila mereka sudah tua sekali. Tetapi di manakah Yesus berada tatkala ia menyatakan perhatian itu kepada ibuNya? Dari konteks kita tahu bahwa Yesus sedang berada di atas kayu salib. Dari pengertian itu kita gampang menekankan kepentingan seorang anak untuk memelihara orang tuanya.

4. Waktunya:

 

Tidak aneh jika seorang anak berseru, “saya sangat capai!” Apalagi bila waktunya sudah jam 11 malam. Tetapi bila pada jam 6 pagi ia berkata demikian, kita pasti mencurigai sesuatu.

4 (4) 04

 

Apakah anak ini tidak tidur satu malam? Atau mungkin ia sakit? Pokoknya, waktu ucapannya sangat penting dalam mengartikan ucapan itu. Demikianlah kita harus bertanya pada diri sendiri beberapa pertanyaan mengenai nas kita:

           1) Kapan ini ditulis/diucapkan?

Dalam soal waktu kita tidak dapat selalu menentukannya secara tepat, tetapi biasanya kita, sesudah melakukan penyelidikan, dapat mengetahui kapan kira-kira nas kita itu diucapkan/ dikatakan. Misalnya, lihat Matius 28:19-20. Jelas nas ini diucapkan hanya beberapa saat sebelum kenaikan Tuhan Yesus ke sorga.

Yohanes 3:1-8 diucapkan pada waktu malam. Tetapi pada tahun berapa? Bukankah ini diucapkan pada permulaan pelayanan Yesus pada kunjunganNya yang pertama ke Yerusalem sesudah Ia dibaptis? Jikalau Yesus dilahirkan pada tahun 4 sebelum Masehi dan disalibkan pada tahun 29 Masehi, kita dapat menentukan bahwa nas kita diucapkan pada kira-kira tahun 27 Masehi. Sewaktu-waktu pengertian akan tahun nas kita dikarang / diucapkan dapat menolong kita mengertikan nas. Misalnya bila kita tahu bahwa Injil Matius dikarang kira-kira pada tahun 55 Masehi, dan kota Yerusalem dibinasakan oleh panglima Romawi,  Titus, pada tahun 70 Masehi, maka ucapan Yesus dalam Matius 23:37-38 dapat lebih dimengerti. Lihatlah ayat tersebut, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.” Demikianlah kita dapat melihat bahwa ramalan (nubuat) Yesus dipenuhi 15 tahun kemudian tatkala panglima Titus merusakkan Bait Allah dan menghancurkan kota Yerusalem.

           2) Apakah arti waktu itu berhubungan dengan kejadian-kejadian lain?

Kita semua dapat menikmati II Timotius 3:7-8, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil pada harinya, . . . .” Tetapi apakah hubungan ayat ini dengan kejadian yang lain? Mari kita melihat II Timotius 1:15 karena di sana kita membaca bahwa semua orang di daerah Asia meninggalkan Paulus, walaupun ia telah bersusah payah melayani di tempat tersebut. Juga, sadarlah bahwa II Timotius merupakan surat Paulus yang penghabisan. Sehingga walaupun orang-orang Kristen mundur dan Paulus tidak dapat berusaha memperbaiki kemunduran itu, ia masih dapat mengatakan bahwa ia menang, dan sebuah mahkota kebenaran tersedia baginya. Demikianlah, pengertian akan waktunya dapat memperkaya pengertian kita akan ayat ini.

5. Apakah kejadian-kejadian yang menyebabkan nas ini ditulis?

Hanya orang gila, orang mabuk, dan orang tolol berbicara tanpa sebab! Biasanya ada sesuatu yang menyebabkan manusia mengeluarkan pandangannya. Saudara harus mencari sebab-sebab nas itu ditulis atau diucapkan. Kadang-kadang ini agak sukar tetapi sering sangat gampang sekali.

Lihatlah Rut 1:16, “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau . . . .” Dengan melihat ayat sebelumnya kita bisa mengetahui mengapa nas ini diucapkan, yaitu karena dorongan dari mertua Rut supaya Rut pulang dan tinggal di tanah airnya saja, dan tidak usah mengikuti Ibu Naomi ke tanah Yudea.

Dalam Ayub 2:10, Ayub berkata kepada isterinya, “Engkau berbicara seperti perempuan gila!” Mengapa Ayub berkata demikian keras kepada istrinya? Apakah kita boleh berbicara begitu kepada isteri kita? Dengan menemukan sebabnya mengapa Ayub berbicara demikian, kita dapat menafsirkan nas ini dengan betul. Ayub berbicara demikian karena isterinya menyuruh dia mengatakan, “Kutuklah Allahmu dan matilah!”

Agak gampang menentukan sebab-sebabnya nas-nas di atas diucapkan. Ada yang jauh lebih sukar namun pengkhotbah yang baik akan menyelidiki nas sampai akhirnya ia akan tahu dengan pasti mengapa nas itu diucapkan/ditulis!

6. Apakah tujuan penulis/pembicara?

Pertanyaan ini hampir sama dengan nomer 5 di atas, tetapi ada bedanya sedikit. Apakah tujuan si penulis itu untuk mendidik atau menegur? Apakah ia ingin mengajar mengenai sorga atau doa? Apakah tujuan?

Beberapa kali pengarang-pengarang Alkitab menjelaskan dengan teliti tujuan mereka menulis itu. Misalnya rasul Yohanes mengatakan dalam I Yohanes 1:4 bahwa ia menulis supaya sukacita mereka menjadi sempurna. Di dalam Injilnya ia mengatakan, “. . . semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya” (Yohanes 20:31).

Sebelum Yesus memberi perumpamaan mengenai “Orang Samaria yang murah hati,” seseorang bertanya kepada Yesus (Lukas 10:29), “Dan siapakah sesamaku manusia?” Pertanyaan itu kelihatannya pertanyaan yang baik, dan memang baik, tetapi orang yang bertanya bertujuan kurang baik. Dalam ayat yang sama rasul Yohanes menyatakan bahwa orang itu bertanya demikian dengan tujuan membenarkan diri. Nah, dengan mengerti tujuan sebenarnya dari pertanyaan tersebut kita dapat mengerti lebih terang tujuan Yesus dalam perumpamaan ini, yaitu untuk memojokkan ahli Taurat itu dan memaksanya mengaku bahwa ia belum sempurna. Dan memang betul, karena akhirnya ia harus mengakui bahwa orang Samaria yang dibencinya itu, lebih benar daripada dia sendiri.

7. Apakah pokok nas ini?

Berusahalah menyingkatkan tema (pokok) nas saudara seringkas mungkin. Misalnya dahulu kami pernah memilih nas Yohanes 11:25-26 sebagai nas khotbah kami. Akhirnya kami menentukan pokoknya sebagai “Hidup.” Lain kali kami menyelidiki Lukas 11:5-13 dan menentukan pokoknya: “Doa.”

Sewaktu-waktu agak gampang menentukan pokok nas, seperti misalnya kalau kita berkhotbah dari I Korintus 13, atau Ibrani 11. Tetapi nas lain mungkin lebih sukar. Tetapi jangan memakai banyak waktu pada pertanyaan ini. Bacalah nas saudara beberapa kali dan sedapat mungkin – menurut hemat saudara – catatlah pokok nas saudara.

8. Bagaimana suasana sejarah pada waktu itu?

Kita perlu ingat bahwa keadaan politik berubah setiap dasawarsa, malahan setiap tahun dan hari. Ekonomi negara-negara dunia juga sering berubah sampai sebuah negara kaya akhirnya menjadi miskin, dan sebaliknya. Demikianlah sejarah dunia berjalan melalui banyak tahap dan perubahan antara waktu Ayub berdialog dengan kawannya sampai dengan saat rasul Yohanes memasang titik terakhir pada Perjanjian Baru. Selama ribuan tahun antara aktivitas dua tokoh Alkitab ini dunia berubah terus. Dan untuk mengerti nas kita, kita harus mengerti sedapat mungkin, keadaan dunia pada waktu nas kita ditulis/diucapkan. Oleh karena itu kita dipaksa mempelajari suasana sejarah pada saat itu.

Sebagai contoh, marilah kita melihat kitab Yunus. Yunus adalah seorang nabi yang diutus Allah. Secara pribadi Allah meminta Yunus untuk pergi ke utara, ke negeri Niniwe, dan menyuruh penduduknya bertobat agar supaya negeri itu selamat dari murka Allah. Bukankah itu sebuah tugas yang indah? Ditugaskan untuk menyelamatkan sebuah negeri! Namun Yunus menolak dan melarikan diri dari tanah Israel. Mengapa? Apakah karena ia tak suka berkhotbah? Tidak! Ia sudah lama menjadi seorang nabi. Apakah karena ia tak suka berjalan jauh dari tanah airnya? Tidak! Malahan rupanya ia senang berjalan jauh karena ia ingin naik kapal untuk pergi ke Tarsis. Jikalau begitu, mengapa Yunus mau melarikan diri? Karena ia sangat membenci bangsa Niniwe. Bangsa ini sering mengancam tanah airnya, yaitu Israel. Mereka bangsa yanng sangat besar, kuat, dan kaya. Yunus kuatir bahwa lain hari mereka akan menyerbu tanah airnya dan memperbudak orang-orang Israel. Karena itu ia ingin melihat mereka dibinasakan daripada diselamatkan! Jika Yunus tidak pergi berkhotbah di Niniwe, yaitu kalau mereka tidak bertobat, Allah akan membinasakan mereka. Itulah yang diharapkan Yunus. Lebih baik ia lari ke Tarsis dan dengan demikian mempercepat kebinasaan musuhnya, orang-orang Niniwe itu.

Bila kita mengerti suasana sejarah pada waktu Yunus, lebih mudah pula kita mengerti mengapa ia berlayar ke Tarsis dan mengapa ia begitu mengharapkan kebinasaan negeri Niniwe!

9. Bagaimana bentuk nas itu?

Setiap nas Alkitab mempunyai bentuk tersendiri. Ada nas yang merupakan sajak seperti Mazmur-Mazmur Daud. Ada nas yang merupakan surat kiriman seperti surat-surat rasul Paulus. Ada Buku yang betul-betul kelihatan seperti buku pelajaran sejarah misalnya Kisah Para Rasul. Kadang-kadang nas itu berbentuk pembicaraan seperti Kisah Para Rasul 16:28-32, yaitu pembicaraan antara Paulus dan sipir penjara di Filipi. Ada juga khotbah-khotbah dalam Alkitab seperti Kisah Para Rasul 2. Ada bermacam-macam perumpamaan. Bahkan ada nyanyian seperti yang terdapat dalam Mazmur. Saudara harus mempelajari nas saudara dan menentukan bentuknya.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
Hak Cipta © 2013 - 2026 Ilmu Berkhotbah Ekspositori.
Ilmu Berkhotbah Ekspositori adalah bagian dari Mebin+Online
Hubungi Kami